Tata cara selamatan tingkeban menurut primbon Jawa adalah upacara adat yang dilakukan saat kehamilan memasuki usia tujuh bulan (tingkeban berasal dari kata "pitu" atau tujuh). Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan ibu dan bayi, serta mempersiapkan kelahiran dengan doa dan simbolisme budaya Jawa. Berikut adalah tata cara selamatan tingkeban berdasarkan tradisi dan primbon Jawa:
1.Penentuan Waktu
- Selamatan tingkeban biasanya dilakukan pada usia kehamilan tujuh bulan, dihitung berdasarkan kalender Jawa.
- Hari pelaksanaan dipilih berdasarkan weton (hari kelahiran) ibu atau berdasarkan perhitungan primbon yang dianggap baik, seperti hari Selasa atau Sabtu, dengan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) yang sesuai.
- Upacara biasanya digelar pada pagi atau sore hari.
2. Persiapan Upacara
- Tempat : Upacara dilakukan di rumah orang tua ibu hamil atau rumah pasangan suami-istri, tergantung tradisi keluarga.
- Sesaji (Uborampe) : Persiapan sesajen mengikuti tradisi Jawa, meliputi:
- Tumpeng robyong : Nasi tumpeng dengan lauk-pauk seperti ayam ingkung (ayam utuh yang direbus), telur rebus, urap-urap, dan kacang-kacangan.
- Cengkir gadhing : Kelapa muda yang diukir dengan motif tertentu, melambangkan kesucian dan harapan anak yang lahir bersih.
- Jajan pasar : Aneka kue tradisional seperti klepon, gethuk, dan cenil.
- Bunga setaman : Bunga mawar, melati, kenanga, dan kanthil untuk ritual siraman.
- Kain sindur dan mori putih : Melambangkan kesucian dan perlindungan.
- Daun sirih, pisang raja, dan air suci : Digunakan dalam ritual siraman.
- Benda simbolis lainnya : Seperti telur ayam kampung, benang, dan jarum.
b - Pakaian : Ibu hamil mengenakan kain batik truntum atau sidomukti, yang melambangkan keharmonisan dan kesejahteraan.
3. Prosesi Upacara
Upacara tingkeban terdiri dari beberapa tahap yang sarat makna:
- Siraman :
- Ibu hamil disiram air suci yang dicampur bunga setaman oleh tujuh orang yang dihormati, biasanya tetua keluarga (misalnya ibu, nenek, atau sesepuh).
- Air siraman diambil dari tujuh sumber mata air (jika memungkinkan) atau air biasa yang telah didoakan.
- Tujuannya adalah membersihkan ibu dan bayi dari energi negatif serta memohon keselamatan.
- Angguran :
- Ibu hamil duduk di atas tikar pandan dengan cengkir gadhing di sampingnya.
- Seorang tetua mematahkan cengkir gadhing, dan air kelapa disiramkan ke tubuh ibu hamil sebagai simbol penyucian.
- Sungkeman :
- Ibu hamil bersungkem kepada orang tua dan suami untuk memohon doa restu.
- Brokohan :
- Dilakukan dengan memasukkan telur ayam ke dalam kain yang dikenakan ibu hamil, lalu telur dipecahkan sebagai simbol kelahiran yang mudah.
- Jualan Dawet :
- Seorang tetua atau suami bertindak sebagai penjual dawet, sementara tamu membeli dawet dengan kereweng (pecahan genting) sebagai alat tukar. Ini melambangkan rezeki yang melimpah.
- Memotong Tumpeng :
- Tumpeng robyong dipotong oleh ibu hamil dan diberikan kepada suami atau tetua sebagai tanda kebersamaan dan harapan kemakmuran.
- Nglangkahi Bapak :
- Ibu hamil melangkahi suami yang duduk di lantai, melambangkan tanggung jawab suami sebagai pelindung keluarga.
4. Doa dan Mantra
- Upacara dipimpin oleh seorang tokoh adat atau dukun bayi (paraji) yang membacakan doa-doa dalam bahasa Jawa kuno atau doa Islam (jika keluarga Muslim).
- Doa biasanya memohon keselamatan ibu dan bayi, kelancaran persalinan, serta keberkahan bagi keluarga.
- Contoh doa sederhana: “Mugi Gusti Allah paringi keslametan lan kaberkahan dumateng ibu lan jabang bayi, mugi kelahiranipun gampang lan sehat.”
5. Penutup
- Setelah prosesi selesai, sesaji dibagikan kepada tamu sebagai tanda syukur.
- Tamu yang hadir, biasanya keluarga dekat dan tetangga, mendoakan ibu hamil dan memberikan hadiah atau dukungan.
- Ibu hamil dianjurkan untuk menjaga pola makan, berpikir positif, dan menghindari pantangan menurut primbon, seperti tidak keluar rumah saat malam hari atau tidak memotong rambut.
6. Pantangan dan Anjuran
- Pantangan :
- Ibu hamil tidak boleh marah atau stres agar bayi lahir dengan jiwa yang tenang.
- Hindari makanan yang dianggap “panas” seperti daging kambing.
- Tidak boleh duduk di depan pintu atau memaku dinding, karena dianggap dapat mengganggu kelahiran.
- Anjuran :
- Banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Mengonsumsi makanan sehat seperti sayuran dan buah-buahan.
- Menjaga hubungan harmonis dengan suami dan keluarga.
Catatan Tambahan
- Tradisi tingkeban dapat bervariasi antar daerah di Jawa (misalnya, Yogyakarta, Surakarta, atau Jawa Timur) tergantung pada subkultur dan kebiasaan lokal.
- Dalam konteks modern, beberapa keluarga menggabungkan unsur Islam dengan tradisi Jawa, seperti membaca ayat-ayat Al-Qur’an selama upacara.
- Jika ingin memastikan kecocokan hari atau weton, konsultasikan dengan ahli primbon atau tetua adat.
Tata cara ini mencerminkan kearifan lokal Jawa yang kaya akan simbolisme dan doa untuk kebaikan ibu dan bayi. Jika Anda ingin detail lebih spesifik, misalnya untuk daerah tertentu atau contoh doa, silakan beri tahu!
No comments:
Post a Comment